Merdeka

Kota tak lagi dipenuhi penjajah. Manusianya, sekolahnya, bentengnya, dan rumah-rumahnya.
Tapi tanahnya. Tidak. Mereka tidak punya tanah. Dan aku benci mengatakannya.
Kota masih dipenuhi penjajah. Dari apa-apa yang tidak terlihat. Oleh penjajah, oleh bangsa sendiri. Makin hari makin menjajah. Apa itu? Kau pikirkan.
Tak perlu kita membalasnya. Sebab membalas berarti meminta balasan. Cukup kita mengerti penjajahan itu membohongi diri penjajah itu sendiri.
Merdeka adalah kami tak dapat dijajah.

“Kadang orang itu butuh disentil dulu, baru sadar”

Sore itu di kursi pertama dari jajaran-jajaran kursi di Republic Campus Cafe. Saya dan Bang Socku janjian untuk membicarakan beberapa misi negara. Selesai dan sebelum pulang, saya mengajukan beberapa pertanyaan random nan iseng tentang rokok kepada Bang Socku yang saat itu asyik mengisap-isap sebatang rokok,

“Rokok bagi Abang itu apa sih?”

“Rokok itu sahabat sejati! Kemanapun, kapanpun, dialah yang selalu ada dan menyenangkan hati, kalah-kalah tuh cewek-cewek cantik!”

“Iya? Nah, kalau Abang punya cewek yang ngancem mutusin Abang kalau merokok gimana?”

“Makanya aku ngerokok gak di depan dia.”

“Emang apa sih enaknya rokok? Sudah banyak kan cerita-cerita tentang buruknya rokok, kok masih gak percaya?”

“Eh, Lun… kalo aku stres, ini temanku. Aku begadang, aku kerja, aku minum kopi, aku ngapain aja, temannya tu ya ini, Lun!”

Segitu besarnya kecintaan Bang Socku pada waktu itu terhadap ROKOK.

**

image

Perkenalkan, ini Bang Socku. Sudah seperti saudara sendiri, bisa jadi saudara semua orang, makanya dia terkenal, termasuk terkenal di Yahoo Koprol, ups! Ini cerita nyata Bang Socku yang lewat saya dia bagi kepada orang-orang (dengan sedikit paksaan, HAHA).

**

Saya sudah lama meninggalkan perbincangan di Repcamp itu. Suatu hari baru, tiba-tiba seorang teman mengabarkan, Bang Socku masuk rumah sakit! Sakit apa ini orang? Mungkin kecapain saja kali ya karena pekerjaannya ngurir. Saya dan dua orang teman, Reza dan Firanti, akhirnya datang membesuk Bang Socku. Masuk ke kamar pasien bernama Eka Supriadi aka Socku, lalu dia sendiri – dengan cerianya - yang mempersilahkan duduk. Waktu itu saya memilih untuk diam saja. Setelah ditanya Reza, Bang Socku menjawab, “Gejala TBC,”

Detik itu saya sadar, dan mulai buka suara, lempeng bertanya, “Masih mau merokok, Bang?”

“Enggak,” jawabnya simple.

**

Beberapa hari yang lalu setelah lama tidak bertemu dan bodohnya lupa untuk bersalaman ala tradisi lebaran, tersinggung lagi obrolan tentang rokok ini. Perbedaan pernyataan yang diutarakan Bang Socku 360 derajat berbaliknya. Saya pun terpana menyimak tiap kata dan ekspresi yang dikeluarkannya. Pun itu agak membuat saya geli akhirnya tertawa.

Bang Socku sekarang jauh terlihat bugar. Ya, pada akhirnya dia memang sudah “bermusuhan” dengan rokok. Sampai pada waktu itu iya katakan, “iiiiii…… enggak ada lagi nyentuh rokok!” sambil mengangkat kedua tangannya. Dia bilang, kemarin adalah sakit terparahnya. “Aku pikir aku sudah akan mati,” katanya juga, karena yang dirasanya waktu itu – dada yang tidak dapat bernapas sama sekali.

Sempat berhenti merokok dua tahun kemudian merokok lagi. Dan sekarang, benar-benar berhenti merokok. Sedikit banyak rokok yang dikonsumsi, cuma masalah wak-tu. Ada yang bilang, ngerokok atau nggak ngerokok, sama-sama akan mati. Pikirkan lagi.

“Kadang orang itu butuh disentil dulu, baru sadar – dari kebiasaan atau gaya hidup yang buruk.” - SOCKU

DEAR EL,

Some days are rocks

Some days are diamonds

You’re a girl and you’re sad

You’re brokenhearted

You can’t heal the past and now you have to face another pain

You can’t have a rainbow without a little rain

This was specially made for a bestie of mine.

Bed alias Kapuk Island

M : kalian bermimpi untuk travel kemana?
G : Ke Korea, Jeju Island.
M : Yang lain?
S : Pulau kapuk, Miss.
M : Ya elah, miss juga tiap hari kali.
Banyak yg membicarakan moral, kepribadian, karakter, dan lain-lain yang sudah menghambat dan merusak pendidikan di Indonesia.

Banyak yg membicarakan moral, kepribadian, karakter, dan lain-lain yang sudah menghambat dan merusak pendidikan di Indonesia.